FEMININITAS BAHASA JEPANG
Oslan Amril, S.S., M.Si.
Dosen Program Studi Sastra Jepang
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta
E-mail: barqawi1710@gmail.com
Abstrak
Bahasa sebagai
piranti komunikasi yang diperoleh manusia bukan sebagai warisan yang diturunkan
secara biologis, melainkan dengan cara dipelajari sebagai sebuah kebudayaan.
Bahasa sangat beragam karena keberadaan masyarakat itu sendiri yang majemuk
dilihat dari faktor usia, jenis kelamin dan jender, status sosial, lingkungan
sosial, dan sebagainya. Bahasa juga berubah-ubah dari waktu ke waktu karena
masyarakatnya yang dinamis yang selalu berkembang setiap saat. Selain dengan
masyarakat, bahasa berkaitan erat dengan kebudayaan. Kebudayaan merupakan bagian yang integral pada interaksi
antara bahasa dan pikiran. Pola kebudayaan, adat istiadat, dan cara hidup
manusia dinyatakan dengan bahasa. Di antara pokok persoalan bahasa, masyarakat,
dan kebudayaan tidak hanya menunjukkan hubungan antara bahasa dan masyarakat
serta bahasa dan kebudayaan, tetapi juga antara masyarakat dan kebudayaan
sehingga menunjukkan hubungan segitiga yang tidak terpisahkan. Jender tidak
hanya terhadap dalam masalah masyarakat atau keluarga, tetapi memberikan
pengaruh juga terhadap seluruh bidang kebudayaan seperti kesusastraan, gambar
atau lukisan, film, dan sebagainya. Di dalam ekspresi kebahasaan pun yang
merupakan dasar berbagai aktivitas manusia, jender muncul dalam berbagai aspek.
Kata kunci :
jender, bahasa
Pendahuluan
Dalam bahasa Jepang terdapat dua buah dialek sosial yang
berbeda berdasarkan diferensiasi jender penuturnya yaitu ragam bahasa wanita (joseigo, onna kotoba) dan ragam bahasa
pria (danseigo, otoko kotoba). Kedua
ragam bahasa ini masih tetap bertahan dan dipakai oleh masyarakat penutur
bahasa Jepang hingga sekarang. Memang pada suasana tuturan formal seperti pada
acara rapat, seminar, simposium, dan kegiatan formal lainnya jarang terdengar
kedua ragam bahasa ini. Tetapi pada percakapan sehari-hari yang tidak resmi
sering terdengar pemakaian bahasa ini.
Demikian juga pada saat perkenalan atau pertemuan pertama dengan orang Jepang,
percakapan dilakukan dengan menggunakan ragam standar. Tetapi semakin lama kita
bergaul dengan mereka, terutama apabila hubungan dengan mereka sudah sangat
akrab, sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan variasi bahasa yang dipakai
termasuk ke dalam ragam bahasa wanita dan ragam bahasa pria. Tidak sedikit
kedua ragam bahasa ini dipakai dalam siaran-siaran radio atau televisi seperti pada
acara drama, film, dan sebagainya. Pada
media lain ragam bahasa ini dapat kita lihat juga pada majalah-majalah,
novel-novel, buku-buku komik, atau dalam kegiatan surat menyurat.
Keadaan ini sangat menarik untuk
dibahas terutama dalam konteks masyarakat dan kebudayaan Jepang yang terkenal
dengan keberhasilan modernisasi dalam berbagai bidang tanpa mengabaikan
nilai-nilai tradisionalnya. Untuk itu, dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana
keterkaitan antara (diferensiasi) jender dengan pemakaian bahasa Jepang,
terutama akan dibahas bagaimana bahasa Jepang memperlakukan kaum wanita, dan
sebaliknya, bagaimana bahasa Jepang diperlakukan oleh kaum wanita. Dari kajian
tersebut pada akhirnya dapat diketahui juga bagaimana status dan peran wanita
Jepang dilihat dari sudut pandang kebahasaan. Sehingga dengan demikian akan
semakin jelas bagaimana hubungan bahasa Jepang dengan faktor -faktor sosial dan
kebudayaan yang mempengaruhinya.
Jender
dan Seks
Walaupun jender dan seks sama-sama
mengacu pada pembagian dua jenis kelamin manusia ; pria
dan wanita, namun di antara
keduanya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Seks (jenis kelamin) merupakan
pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara
biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu (Fakih, 1985 : 8). Sifat
-sifat ini secara mutlak dimiliki masing-masing pria dan wanita dan tidak bisa
dipertukarkan antara yang satu kepada yang lainnya karena hal itu merupakan
kodrat sebagai kekuasaan tuhan yang tidak bisa ditolak oleh semua manusia. Di
lain pihak, jender merupakan perbedaan jenis kelamin pria-wanita yang dibentuk
secara sosial dan kultural (Tadao, 1995 : 911). Jender merupakan suatu
konsepsi, mengacu pada pengertian bahwa dilahirkan sebagai laki-laki atau
perempuan keberadaannya berbeda-beda dalam waktu, tempat, kultur, bangsa maupun
peradaban. Keadaan itu berubah-ubah dari masa ke masa (Achmad, 1995 : 171).
Misalnya pria sering dikatakan cepat dalam mengambil keputusan, rasional,
egois, atau agresif. Sementara wanita sering dikatakan lemah lembut, sopan
santun, baik budi bahasanya, pasif, dan
penuh perhatian. Tetapi sifat -sifat ini tidak mutlak dimiliki oleh pria dan
wanita, bahkan dapat menunjukkan keadaan yang sebaliknya dimana sifat wanita
dimiliki pria dan sifat pria dimiliki wanita.
Persoalan-persoalan yang menyangkut
perbedaan jenis kelamin ini berpengaruh juga terhadap pemakaian bahasa. Teori
yang berkaitan dengan tema tulisan ini dikemukakan
Peter Trudgill yang menyatakan bahwa pemakaian bahasa, selain dipengaruhi faktor
golongan sosial, perbedaan suku bangsa, wilayah penuturnya, dan sebagainya, dipengaruhi juga oleh
perbedaan jenis kelamin (Trudgill, 1997 : 94). Begitu juga Kris Budiman
mengatakan, jika bahasa merupakan seperangkat konvensi yang mampu merefleksikan
hubungan-hubungan sosial, maka diferensiasi jender tersebut akan tercerminkan
juga di dalamnya. Hal ini dapat terjadi karena bahasa memuat istilah-istilah,
konsep-konsep, ataupun label-label yang menandai tingkah laku mana yang pantas
bagi laki-laki dan mana yang pantas bagi perempuan (Budiman, 1996 : 73).
Bahasa sebagai alat komunikasi
untuk menyokong kehidupan bermasyarakat diperoleh manusia bukan sebagai warisan
yang diturunkan secara biologis, melainkan dengan cara dipelajari sebagai
sebuah kebudayaan. Manusia dilahirkan ke dunia tidak secara langsung dibarengi
keterampilan berbahasa. Manusia terampil berbahasa karena dipengaruhi
lingkungan sosialnya. Kemampuan tersebut diperoleh dari kedua orang tua,
saudara-saudara, dan teman-teman di sekelilingnya.Kemampuan berbahasa diperoleh
juga dari pendidikan formal dan nonformal seperti di sekolah-sekolah,
kursus-kursus, pesantren-pesantern, dan sebagainya. Dengan demikian pemakaian
bahasa akan berbeda-beda berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti
waktu, tempat, golongan sosial, suku bangsa, dan sebagainya ter masuk
diferensiasi jender para penuturnya. Hal itu menunjukkan keterkaitan yang
sangat erat antara bahasa, masyarakat, dan kebudayaan.
Citra
Wanita dalam Bahasa Jepang
Kalau kita perhatikan secara
saksama, sama seperti dalam sistem kepercayaan masyarakat, bidang hukum atau
perundanga-undangan, dan sebagainya, di dalam bahasa Jepang pun tercerminkan
‘ketidakberuntungan’ kaum wanita dibanding kaum pria. Beberapa bukti yang
memperkuat anggapan ini terlihat dalam pembentukan huruf kanji, pembentukan
kata, dan peribahasa Jepang.
Kita semua tahu bahwa pria dan
wanita masing-masing dilambangkan dengan kanji yang berbeda. Pria dilambangkan
dengan huruf yang mengandung unsur kanji yang berarti ‘sawah’ dan ‘tenaga’ yang
menggambarkan perannya sebagai orang yang bekerja sekuat tenaga memproduksi
padi di sawah untuk menyokong kehidupan bangsa guna membangun negara. Pekerjaan
mulia ini dianggap milik pria walaupun pada kenyataannya banyak juga wanita yang
turut bekerja di sawah. Berbeda dengan pria, wanita ditulis dengan huruf yang
melambangkan orang yang sedang menari. Hal ini memberi gambaran sosok wanita
yang berperan sebagai penghibur orang (pria). Seolah-olah mereka dijadikan
objek kesenangan atau kepuasaan orang yang melihatnya. Meskipun banyak pria
yang menjadi penari, tetapi kanji pria tidak diperlakukan seperti itu.
Kanji yang melambangkan pria dan
wanita itu dapat digabungkan dengan kanji lain sehingga membentuk kanji baru
yang memiliki arti tertentu. Anehnya, jumlah kanji yang mengandung unsur kanji
wanita lebih banyak dibanding jumlah kanji yang mengandung unsur kanji pria.
Lebih aneh lagi, ternyata banyak sekali kanji yang mengandung unsur kanji
wanita yang memiliki makna yang terkesan negatif seperti kanji yang
melambangkan kata-kata kobiru媚びる (merayu, menjilat, mencumbu), netamu
嫉む
(iri hati, cemburu), samatageru妨げる (mengganggu, menghambat, menghalangi), kirau
嫌う
(membenci, tidak suka, tidak senang), sonemu嫉む (cemburu, iri hati), dan yasui
安い
(murah). Bahkan apabila tiga buah kanji yang berarti wanita digabungkan, maka
membentuk sebuah kanji yang dapat dibaca kashimashii
姦しい(ribut,
gaduh, ramai).
Sama dengan dalam pembentukan
kanji, dalam pembentukan kata pun wanita terlihat tidak mendapat prioritas
utama. Kata danjo (pria-wanita) tidak
dapat diubah menjadi jodan
dengan harapan mendahulukan unsur
wanitanya. Sama dengan danjo, kata-kata fubo (ayah-ibu), fuufu (suami -istri) dan shijo (anak pria dan anak wanita) tidak bisa
dibalikkan menjadi bofu, fufuu, dan joshi. Kata fukei yang berarti orang tua/wali murid berasal dari
kata chichi
(ayah) dan ani (kakak laki -laki). Begitu juga kata kyoodai
yang berarti keluarga/saudara berasal dari kata ani (kakak laki -laki) dan otooto (adik laki -laki). Walaupun fukei berarti ‘orang tua/wali murid’ dan kyoodai
berarti ‘keluarga/saudara’ namun di
dalamnya tidak terkandung unsur ‘wanita’ baik ibu, kakak perempuan, maupun adik
perempuan.
Belum lagi kalau melihat kata-kata
yang menunjukkan profesi yang cukup populer dan mantap seperti isha (dokter),
repootaa (reporter),
keiji (polisi/detektif), kyooshi (guru), sakka (penulis), dan haiyuu (aktor/aktris). Kelihatannya semuanya mangacu
pada profesi yang dimiliki pria. Sebab selain kata-kata itu terdapat kata joi
(dokter wanita), josei repootaa (reporter wanita), onna
keiji (polisi/detektif wanita), jokyooshi (guru wanita), joryuu
sakka (penulis wanita), dan joyuu (aktris). Sedangkan kata dan’i (dokter pria), dansei
repootaa (reporter pria), otoko
keiji (polisi/detektif pria), dankyooshi (guru pria),
danryuu sakka (penulis pria), dan danyuu (aktor) tidak ada dalam jajaran kosakata
bahasa Jepang.
Begitu juga dalam peribahasa. Tidak
sedikit peribahasa Jepang yang mengangkat citra wanita seperti itu. Beberapa contohnya dapat kita lihat sebagai
berikut :
1.
Onna
wa sangai ni ie nashi.
2.
Otoko
wa matsu onna wa fuji.
3.
Onna
sannin yoreba kashimashii.
4.
Onnagokoro
to aki no sora.
5.
Onna
no sarujie.
6.
Onna
no kami no ke ni wa taizoo mo tsunagaru.
7.
Onna
wa mamono.
Pandangan yang tidak seimbang
terhadap wanita dan pria tergambarkan dalam semua peribahasa di atas yang
menyiratkan subordinasi wanita di bawah superioritas pria.
Dalam peribahasa 1 digambarkan
sosok wanita yang tidak memiliki ‘rumah’ sendiri yang tetap di mana pun di atas
dunia ini. Saat masih kecil ia harus tunduk kepada bapaknya, setelah menikah
harus patuh terhadap suaminya, dan setelah berusia tua ia harus menurut
terhadap kekuasaan anak pria (pertama)-nya. Oleh sebab itu wanita dianggap
tidak memiliki majikan yang tetap untuk dapat hidup tenang. Dalam peribahasa 2
digambarkan karakteristik pria dan wanita dimana pria diibaratkan sebuah pohon
pinus yang dapat hidup berdiri sendiri dan tetap bertahan walaupun diterpa
badai atau salju. Sementara wanita diibaratkan sebuah pohon bunga fuji yang
tumbuh menjalar pada pohon pinus. Makna yang terkandung dalam per ibahasa ini
adalah bahwa pria merupakan insan yang kuat baik secara rohaniah maupun
jasmaniah sehingga mereka memiliki kelebihan kemampuan dalam kehidupannya.
Sedangkan wanita dianggap sebagai insan lemah yang pantas hidup bergantung pada
pria.
Predikat tidak baik yang dimiliki
wanita tergambarkan juga pada peribahasa 3 yang bermakna dikarenakan wanita
merupakan insan yang suka ngobrol atau banyak bicara, maka kalau berkumpul tiga
orang saja dalam waktu yang sama, akibatnya suasana akan menjadi ribut
atau gaduh. Selain itu, sialnya kaum
wanita sampai pada perolehan ‘cap’ seperti yang digambarkan pada peribahasa 4
yang menyebutkan hati wanita seperti keadaan langit pada musim gugur yang mudah
berubah-ubah secara tiba-tiba. Begitu juga dalam segi kepandaian, wanita dianggap menduduki posisi jauh di
bawah pria. Peribahasa 5 menunjukkan pengetahuan yang dimiliki wanita sangat
dangkal. Lalu pandangan mengenai peran wanita yang tidak baik tersirat juga
dalam peribahasa 6 yang memberi predikat terhadap wanita sebagai penggoda hati
pria. Peribahasa ini menunjukkan sebagaimana kuatnya seorang pria namun ia akan
tergoda juga oleh daya tarik dan kecantikan wanita. Bahkan dalam peribahasa 7
wanita dikatakan sering membuat pria lupa daratan.
Femininitas
dalam Bahasa Jepang
Sudah banyak orang yang
mengemukakan pendapatnya tentang ciri-ciri femininitas yang membedakannya dari
maskulinitas. Misalnya Peter R. Beckman dan Francine D’Amico (1994 : 4)
menunjukkan adanya stereotip atau generalisasi kultural tentang
karakteristik-karakteristik jender tertentu sebagaimana dapat dilihat di bawah
ini :
Maskulin
: Feminin
:
rasional emosional
pasti, sungguh-sungguh fleksibel/plinplan
kompetitif koperatif
tegas mengalah
cenderung mendominasi cenderung
berrelasi
penuh perhitungan instingtif
menahan diri ekspresif
fisikal verbal
agresif pasif
egois peduli,
perhatian
Bersamaan dengan itu, Julia Cleves
Mosse menunjukkan pandangan jender sebagai seperangkat peran yang seperti
halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita
adalah feminin atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini –yang mencakup penampilan, pakaian, sikap,
kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga, dan sebagainya
-secara bersama-sama memoles ‘peran jender’ kita (Mosse, 1996 : 3).
Tetapi Sasaki Mizue berpendapat
bahwa sebenarnya apa yang ditunjukkan oleh istilah femininitas (onnarashisa)
tidak jelas. Tidak salah, selain sikap
atau tingkah laku, raut muka, dan gaya atau penampilan, di dalamnya
terkandung juga ‘pemakaian bahasa’ (Mizue, 1995 : 342). Kesimpulan bahwa
pemakaian bahasa bisa merefleksikan femininitas dan maskulinitas penuturnya
berawal dari adanya fenomena yang menunjukkan bahwa di dalam bahasa Jepang
terdapat sebuah dialek sosial yang dikenal dengan joseigo atau onna kotoba (ragam bahasa wanita) yang berbeda
dengan danseigo atau otoko kotoba (ragam bahasa pria). Bahasa
wanita (feminine language) adalah sebuah variasi bahasa Jepang, yang biasa disebut joseigo atau onna kotoba, yang secara khusus dipakai
oleh kaum wanita sebagai suatu refleksi femininitas mereka. Keberadaan gaya
bahasa yang secara tegas membedakan jenis kelamin tersebut merupakan
karakteristik bahasa Jepang (Jorden, 1989 : 250). Ragam bahasa wanita dalam
bahasa Jepang modern ditandai dengan beberapa aspek di antaranya dengan
pemakaian shuujoshi atau bunmatsu hyoogen, dengan aspek leksikal
seperti pemakaian pronomina persona pertama dan pemakaian interjeksi, dan
ditandai juga dengan pemakaian ragam bahasa hormat ( keigo).
Dilihat dari aspek pemakaian shuujoshi
terdapat beberapa perbedaan antara
yang dipakai pria dan yang dipakai wanita. Di dalam ragam bahasa pria dipakai
partikel-partikel seperti zo, ze, kai,
dazo, daze, sedangkan di dalam ragam bahasa wanita dipakai
partikel-partikel kashira, wa, wayo,
wane, no, noyo, none, koto, dan kotoyo. Partikel -partikel zo, ze, kai, dazo, daze, dan sebagainya dalam ragam bahasa pria
merefleksikan maskulinitas penuturnya sebagai insan yang sangat tegas, berani,
kuat, penuh percaya diri, penuh kepastian, atau cepat dalam mengambil
keputusan. Berbeda dengan partikel-partikel itu, partikel-partikel kashira, wa, wayo, wane, no, noyo, none,
koto, dan kotoyo yang dipakai dalam ragam bahasa wanita
menjadikan bahasa yang diucapkan lemah lembut dan tidak menunjukkan ketegasan
atau kekuatan. Partikel-partikel itu dipakai untuk menghaluskan atau melemahkan
pendapat, kesimpulan, keputusan, pikiran, atau pertanyaan penuturnya sehingga
mereka terkesan ramah tamah dan sopan santun.
Lalu dilihat dari pemakaian
pronomina persona pertama tampak sekali wanita tidak memiliki alternatif
dibanding pria. Dalam situasi formal pria memakai pronomina persona pertama
netral watashi atau
watakushi, sedangkan dalam situasi tidak formal mereka bisa memakai
beberapa pronomina persona pertama boku, ore, washi, ware, atau 9jibun. Pada
suasana formal wanita pun memakai pronomina persona pertama watashi atau
watakushi, namun dalam suasana tidak formal mer eka hanya memakai satu
pronomina persona pertama yaitu atashi (atakushi).
Sama dengan dalam pemakaian
pronomina persona, dalam pemakaian interjeksi pun terdapat kata-kata yang hanya
dipakai wanita. Dalam sebuah tulisannya Osamu Mizutani dan Nobuko Mizutani
menyebutkan bahwa untuk menyatakan keterkejutan mereka pada saat melihat
seseorang yang tidak terduga-duga, pria akan menyatakan ‘Yaa’ atau ‘Yaa korewa
korewa’, sementara wanita akan mengatakan ‘Maa’ atau ‘Araa’ (Maa dan araa tidak pernah digunakan oleh pria) (Mizutani & Mizutani, 1987 : 77).
Pemakaian pronomina persona pertama
atashi (atakushi) serta pemakaian
interjeksi maa dan araa
seperti ini menunjukkan bahasa yang dipakai wanita sangat halus, tidak
menunjukkan kekuatan atau kekerasan dan tidak menunjukkan kesombongan atau
keangkuhan sehingga penuturnya terkesan sabar, rendah diri, tenang, dan manja.
Begitu juga dalam aspek ragam
bahasa hormat, ada kecenderungan dimana wanita lebih banyak menggunakan ragam
hormat daripada pria. Dalam percakapan dengan kenalannya, wanita, terutama
wanita tua cenderung berbicara lebih halus daripada pria, mereka lebih sering
menggunakan verba halus atau menggunakan beberapa bagian akhir kalimat yang
feminin (Mizutani & Mizutani, 1987 : 72). P.Wetzel yang telah melakukan
penelitian mengenai pemakaian ragam bahasa hormat di kalangan orang Jepang,
melalui penelitian kesadaran berbahasa (gengo ishiki choosa) yang ia lakukan,
melaporkan bahwa wanita lebih sensitif terhadap kesalahan ragam bahasa hormat
dari pada pria (Wetzel dalam Shooji, 1997 : 83). Banyaknya pemakaian bahasa
hormat oleh wanita menunjukkan penuturnya yang sopan santun, selalu
berhati-hati dalam berbicara, sangat mempertimbangkan dan menghormati lawan
bicara atau orang yang dibicarakan. Horii Reiichi (1990 : 29) menambahkan, pada
umumnya cara berbicara pria sangat dominan, ketegasannya kuat, terbuka, dan
ingin memiliki wibawa. Sedangkan cara berbicara wanita bersifat lemah lembut,
halus, koperatif, dan bersifat tidak langsung, namun sering dikatakan cenderung
pada pokok pembicaraan yang membosankan dan sering melakukan
pengulangan.
Kesimpulan
Bahasa merupakan refleksi
masyarakat dan kebudayaan para pemakainya. Begitu juga bahasa Jepang, yang
mengandung nilai-nilai seksis, dapat merefleksikan nilai-nilai, norma-norma,
sikap, atau pandangan masyarakat Jepang terhadap pria dan wanita. Fenomena yang
menunjukkan adanya ragam bahasa wanita dalam bahasa Jepang dengan
karakteristiknya yang berbeda dengan ragam bahasa pria, merupakan wujud konkrit
dari refleksi tersebut. Karakteristik ragam bahasa wanita yang telah
dikemukakan pada bagian muka menggambarkan posisi wanita yang tidak sejajar
dengan pria. Bahkan hal itu ada hubungannya dengan status sosial wanita yang
masih menduduki posisi sekunder dibanding pria dalam kehidupan masyarakat
Jepang. Sachiko Ide (dalam Dardjowidjojo, 1995 : 268) menjelaskan bahwa dalam
tingkat tatakramanya, wanita Jepang memakai ujaran yang lebih sopan atau lebih
halus daripada pria. Pemakaian bentuk yang lebih sopan ini ada yang
menghubungkannya dengan posisi wanita yang lebih rendah atau lebih marjinal
atau dengan usaha wanita untuk berkompensasi terhadap posisi yang tidak aman
dalam masyarakat.
Para wanita telah lama dinyatakan
lebih rendah statusnya dibanding pria dan diharapkan untuk menunjukkan
perbedaan pria dengan dirinya dalam tingkatan yang setinggi-tingginya melalui
penggunaan bahasa sopan dan bentuk-bentuk hormat dalam berbicara, membungkukkan
badan lebih dalam dari pada pria, berjalan di belakang suaminya di hadapan
umum, dan masih banyak cara lain sebagai kepatuhannya terhadap pria (Loveday,
1986 : 12). Hal ini berawal dari pemikiran
dansonjohi (Haruhiko, 1997 : 210) yang menunjukkan sikap
atau pemikiran yang menghormati kaum pria dan merendahkan kaum wanita.
Daftar Kepustakaan
Achmad, Sjamsiah.
1995 Keperluan
untuk Mengadakan Analisis Secara Spesifik Menurut
Gender dalam Kajian Wanita dalam
Pembangunan,
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Beckman, Peter
R. & Francine D’Amico. 1994 Women, Gender, and World Politics-
Perspectives, Policies, and
Prospects,
Bergin & Garvey, London.
Budiman, Kris. 1995 Subordinasi
Perempuan dalam Bahasa Indonesia, tulisan dalam
Citra Wanita dan Kekuasaan, Penerbit
Kanisius, Yogyakarta.
Dardjowidjojo,
Soenjono 1996 . Nasib Wanita dalam
Cerminan Bahasa dalam PELLBA 8,
Kanisius,
Yogyakarta.
Eiji, Orii. 1985.
Kurashi no Naka no Kotowaza Jiten,
Shueisha, Tokyo.
Fakih, Mansour. 1997 Menggeser
Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka
Pelajar,
Yogyakarta.
Haruhiko,
Kindaichi. 1998. Nihongo no Tokushoku, Kodansha, Tokyo.
Hiroshi, Abe .1999. Gengo
ni Okeru Sei to Bunka dalam Jendaa o Meguru Gengo to
Bunka, Tohoku Daigaku
Gengo Bunkabu. Izuru, Shinmura 1990
Koojien, Iwanami Shoten, Tokyo.
Jorden, Eleanor,
H.1989. Feminine Language dalam Kodansha
Encyclopedia of Japan,
Kodansha,
Tokyo.
Loveday, Leo 1986 Japanese
Sociolinguistics, John Benjamins Publishing Company,
Kyoto.
Mizue, Sasaki. 1995.
Onna Kotoba to otoko Kotoba dalam Nihon Jijoo Handobukku,
Taishuukan
Shoten, Tokyo.
Mizutani, Osamu
& Nobuko Mizutani. 1987. How to be
Polite in Japanese, The Japan
Times,
Tokyo
Mosse, Julia
Cleves .1996. Half the World, Half a Chance – An Introduction to Gender
and Development (Gender & Pembangunan, terjemahan
Hartian Silawati), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.Reiichi, Horii 1990 Onna no Kotoba, Meiji Shoin, Tokyo.
Silzer, Peter
J.1991. Bahasa Sebagai Sarana Mengungkap Perasaan dalam Transformasi
Budaya Seperti Tercermin dalam
PerkembanganBahasa-Bahasa di Indonesia, Fakultas sastra Universitas
Indonesia,Depok.
Shooji, Azuma.1997. Shakai Gengogaku Nyuumon, Kenkyuusha Shuppan,
Tokyo.
Suharto, 1991. Tanya
Jawab Sosiologi, Rineka Cipta, Jakarta.
Supardo, Susilo.
1988. Bahasa Indonesia dalam Konteks, Proyek PLPTK Dirjen Dikti
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
Tadao, Umesao. 1995. Nihongo
Daijiten, Kodansha, Tokyo.
Trudgill, Peter 1996 Sociolinguistics
: An Introduction (Gengo to Shakai, terjemahan
bahasa
Jepang oleh Tsuchida Shigeru), Iwanami Shinsho, Tokyo.

sangat menarik artikel nya
BalasHapus