Rabu, 23 September 2015

FEMININITAS BAHASA JEPANG






FEMININITAS BAHASA JEPANG

Oslan Amril, S.S., M.Si.
Dosen Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta




Abstrak
Bahasa sebagai piranti komunikasi yang diperoleh manusia bukan sebagai warisan yang diturunkan secara biologis, melainkan dengan cara dipelajari sebagai sebuah kebudayaan. Bahasa sangat beragam karena keberadaan masyarakat itu sendiri yang majemuk dilihat dari faktor usia, jenis kelamin dan jender, status sosial, lingkungan sosial, dan sebagainya. Bahasa juga berubah-ubah dari waktu ke waktu karena masyarakatnya yang dinamis yang selalu berkembang setiap saat. Selain dengan masyarakat, bahasa berkaitan erat dengan kebudayaan. Kebudayaan  merupakan bagian yang integral pada interaksi antara bahasa dan pikiran. Pola kebudayaan, adat istiadat, dan cara hidup manusia dinyatakan dengan bahasa. Di antara pokok persoalan bahasa, masyarakat, dan kebudayaan tidak hanya menunjukkan hubungan antara bahasa dan masyarakat serta bahasa dan kebudayaan, tetapi juga antara masyarakat dan kebudayaan sehingga menunjukkan hubungan segitiga yang tidak terpisahkan. Jender tidak hanya terhadap dalam masalah masyarakat atau keluarga, tetapi memberikan pengaruh juga terhadap seluruh bidang kebudayaan seperti kesusastraan, gambar atau lukisan, film, dan sebagainya. Di dalam ekspresi kebahasaan pun yang merupakan dasar berbagai aktivitas manusia, jender muncul dalam berbagai aspek.

Kata kunci : jender, bahasa

Pendahuluan
Dalam bahasa  Jepang terdapat dua buah dialek sosial yang berbeda berdasarkan diferensiasi jender penuturnya yaitu ragam bahasa wanita (joseigo, onna kotoba) dan ragam bahasa pria (danseigo, otoko kotoba). Kedua ragam bahasa ini masih tetap bertahan dan dipakai oleh masyarakat penutur bahasa Jepang hingga sekarang. Memang pada suasana tuturan formal seperti pada acara rapat, seminar, simposium, dan kegiatan formal lainnya jarang terdengar kedua ragam bahasa ini. Tetapi pada percakapan sehari-hari yang tidak resmi sering  terdengar pemakaian bahasa ini. Demikian juga pada saat perkenalan atau pertemuan pertama dengan orang Jepang, percakapan dilakukan dengan menggunakan ragam standar. Tetapi semakin lama kita bergaul dengan mereka, terutama apabila hubungan dengan mereka sudah sangat akrab, sedikit demi sedikit akan terjadi perubahan variasi bahasa yang dipakai termasuk ke dalam ragam bahasa wanita dan ragam bahasa pria. Tidak sedikit kedua ragam bahasa ini dipakai dalam siaran-siaran radio atau televisi seperti pada acara  drama, film, dan sebagainya. Pada media lain ragam bahasa ini dapat kita lihat juga pada majalah-majalah, novel-novel, buku-buku komik, atau dalam kegiatan surat menyurat.
Keadaan ini sangat menarik untuk dibahas terutama dalam konteks masyarakat dan kebudayaan Jepang yang terkenal dengan keberhasilan modernisasi dalam berbagai bidang tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisionalnya. Untuk itu, dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana keterkaitan antara (diferensiasi) jender dengan pemakaian bahasa Jepang, terutama akan dibahas bagaimana bahasa Jepang memperlakukan kaum wanita, dan sebaliknya, bagaimana bahasa Jepang diperlakukan oleh kaum wanita. Dari kajian tersebut pada akhirnya dapat diketahui juga bagaimana status dan peran wanita Jepang dilihat dari sudut pandang kebahasaan. Sehingga dengan demikian akan semakin jelas bagaimana hubungan bahasa Jepang dengan faktor -faktor sosial dan kebudayaan yang mempengaruhinya.

Jender dan Seks
Walaupun jender dan seks sama-sama mengacu pada pembagian dua jenis kelamin manusia ;  pria  dan  wanita, namun di antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Seks (jenis kelamin) merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu (Fakih, 1985 : 8). Sifat -sifat ini secara mutlak dimiliki masing-masing pria dan wanita dan tidak bisa dipertukarkan antara yang satu kepada yang lainnya karena hal itu merupakan kodrat sebagai kekuasaan tuhan yang tidak bisa ditolak oleh semua manusia. Di lain pihak, jender merupakan perbedaan jenis kelamin pria-wanita yang dibentuk secara sosial dan kultural (Tadao, 1995 : 911). Jender merupakan suatu konsepsi, mengacu pada pengertian bahwa dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan keberadaannya berbeda-beda dalam waktu, tempat, kultur, bangsa maupun peradaban. Keadaan itu berubah-ubah dari masa ke masa (Achmad, 1995 : 171). Misalnya pria sering dikatakan cepat dalam mengambil keputusan, rasional, egois, atau agresif. Sementara wanita sering dikatakan lemah lembut, sopan santun, baik budi  bahasanya, pasif, dan penuh perhatian. Tetapi sifat -sifat ini tidak mutlak dimiliki oleh pria dan wanita, bahkan dapat menunjukkan keadaan yang sebaliknya dimana sifat wanita dimiliki pria dan sifat pria dimiliki wanita.
Persoalan-persoalan yang menyangkut perbedaan jenis kelamin ini berpengaruh juga terhadap pemakaian bahasa. Teori yang berkaitan dengan tema tulisan ini  dikemukakan Peter Trudgill yang menyatakan bahwa pemakaian bahasa, selain dipengaruhi faktor golongan sosial, perbedaan suku bangsa, wilayah penuturnya,   dan sebagainya, dipengaruhi juga oleh perbedaan jenis kelamin (Trudgill, 1997 : 94). Begitu juga Kris Budiman mengatakan, jika bahasa merupakan seperangkat konvensi yang mampu merefleksikan hubungan-hubungan sosial, maka diferensiasi jender tersebut akan tercerminkan juga di dalamnya. Hal ini dapat terjadi karena bahasa memuat istilah-istilah, konsep-konsep, ataupun label-label yang menandai tingkah laku mana yang pantas bagi laki-laki dan mana yang pantas bagi perempuan (Budiman, 1996 : 73).
Bahasa sebagai alat komunikasi untuk menyokong kehidupan bermasyarakat diperoleh manusia bukan sebagai warisan yang diturunkan secara biologis, melainkan dengan cara dipelajari sebagai sebuah kebudayaan. Manusia dilahirkan ke dunia tidak secara langsung dibarengi keterampilan berbahasa. Manusia terampil berbahasa karena dipengaruhi lingkungan sosialnya. Kemampuan tersebut diperoleh dari kedua orang tua, saudara-saudara, dan teman-teman di sekelilingnya.Kemampuan berbahasa diperoleh juga dari pendidikan formal dan nonformal seperti di sekolah-sekolah, kursus-kursus, pesantren-pesantern, dan sebagainya. Dengan demikian pemakaian bahasa akan berbeda-beda berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti waktu, tempat, golongan sosial, suku bangsa, dan sebagainya ter masuk diferensiasi jender para penuturnya. Hal itu menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara bahasa, masyarakat, dan kebudayaan.

Citra Wanita dalam Bahasa Jepang
Kalau kita perhatikan secara saksama, sama seperti dalam sistem kepercayaan masyarakat, bidang hukum atau perundanga-undangan, dan sebagainya, di dalam bahasa Jepang pun tercerminkan ‘ketidakberuntungan’ kaum wanita dibanding kaum pria. Beberapa bukti yang memperkuat anggapan ini terlihat dalam pembentukan huruf kanji, pembentukan kata, dan peribahasa Jepang.
Kita semua tahu bahwa pria dan wanita masing-masing dilambangkan dengan kanji yang berbeda. Pria dilambangkan dengan huruf yang mengandung unsur kanji yang berarti ‘sawah’ dan ‘tenaga’ yang menggambarkan perannya sebagai orang yang bekerja sekuat tenaga memproduksi padi di sawah untuk menyokong kehidupan bangsa guna membangun negara. Pekerjaan mulia ini dianggap milik pria walaupun pada kenyataannya banyak juga wanita yang turut bekerja di sawah. Berbeda dengan pria, wanita ditulis dengan huruf yang melambangkan orang yang sedang menari. Hal ini memberi gambaran sosok wanita yang berperan sebagai penghibur orang (pria). Seolah-olah mereka dijadikan objek kesenangan atau kepuasaan orang yang melihatnya. Meskipun banyak pria yang menjadi penari, tetapi kanji pria tidak diperlakukan seperti itu. 
Kanji yang melambangkan pria dan wanita itu dapat digabungkan dengan kanji lain sehingga membentuk kanji baru yang memiliki arti tertentu. Anehnya, jumlah kanji yang mengandung unsur kanji wanita lebih banyak dibanding jumlah kanji yang mengandung unsur kanji pria. Lebih aneh lagi, ternyata banyak sekali kanji yang mengandung unsur kanji wanita yang memiliki makna yang terkesan negatif seperti kanji yang melambangkan kata-kata  kobiru媚びる  (merayu, menjilat, mencumbu),  netamu 嫉む (iri hati, cemburu),  samatageru妨げる  (mengganggu, menghambat, menghalangi),  kirau 嫌う (membenci, tidak suka, tidak senang),  sonemu嫉む  (cemburu, iri hati), dan  yasui 安い (murah). Bahkan apabila tiga buah kanji yang berarti wanita digabungkan, maka membentuk sebuah kanji yang dapat dibaca kashimashii 姦しい(ribut, gaduh, ramai).
Sama dengan dalam pembentukan kanji, dalam pembentukan kata pun wanita terlihat tidak mendapat prioritas utama. Kata  danjo  (pria-wanita) tidak dapat diubah menjadi  jodan  dengan  harapan mendahulukan unsur wanitanya. Sama dengan  danjo, kata-kata fubo  (ayah-ibu),  fuufu  (suami -istri) dan  shijo  (anak pria dan anak wanita) tidak bisa dibalikkan menjadi  bofu, fufuu, dan  joshi. Kata  fukei  yang berarti orang tua/wali murid berasal dari kata  chichi  (ayah) dan  ani  (kakak laki -laki). Begitu juga kata  kyoodai yang berarti keluarga/saudara berasal dari kata ani (kakak laki -laki) dan otooto (adik laki -laki). Walaupun  fukei  berarti ‘orang tua/wali murid’ dan  kyoodai  berarti ‘keluarga/saudara’ namun di dalamnya tidak terkandung unsur ‘wanita’ baik ibu, kakak perempuan, maupun adik perempuan.
Belum lagi kalau melihat kata-kata yang menunjukkan profesi yang cukup populer dan mantap seperti  isha  (dokter),  repootaa  (reporter),  keiji  (polisi/detektif), kyooshi  (guru),  sakka  (penulis), dan  haiyuu  (aktor/aktris). Kelihatannya semuanya mangacu pada profesi yang dimiliki pria. Sebab selain kata-kata itu terdapat kata  joi (dokter wanita),  josei repootaa  (reporter wanita),  onna keiji  (polisi/detektif wanita), jokyooshi  (guru wanita),  joryuu sakka  (penulis wanita), dan  joyuu  (aktris). Sedangkan kata  dan’i  (dokter pria),  dansei repootaa  (reporter pria),  otoko keiji  (polisi/detektif pria), dankyooshi  (guru pria),  danryuu sakka  (penulis pria), dan  danyuu  (aktor) tidak ada dalam jajaran kosakata bahasa Jepang.
Begitu juga dalam peribahasa. Tidak sedikit peribahasa Jepang yang mengangkat citra wanita seperti itu.  Beberapa contohnya dapat kita lihat sebagai berikut :
1.      Onna wa sangai ni ie nashi.
2.      Otoko wa matsu onna wa fuji.
3.      Onna sannin yoreba kashimashii.
4.      Onnagokoro to aki no sora.
5.      Onna no sarujie.
6.      Onna no kami no ke ni wa taizoo mo tsunagaru.
7.      Onna wa mamono.

Pandangan yang tidak seimbang terhadap wanita dan pria tergambarkan dalam semua peribahasa di atas yang menyiratkan subordinasi wanita di bawah superioritas pria.
Dalam peribahasa 1 digambarkan sosok wanita yang tidak memiliki ‘rumah’ sendiri yang tetap di mana pun di atas dunia ini. Saat masih kecil ia harus tunduk kepada bapaknya, setelah menikah harus patuh terhadap suaminya, dan setelah berusia tua ia harus menurut terhadap kekuasaan anak pria (pertama)-nya. Oleh sebab itu wanita dianggap tidak memiliki majikan yang tetap untuk dapat hidup tenang. Dalam peribahasa 2 digambarkan karakteristik pria dan wanita dimana pria diibaratkan sebuah pohon pinus yang dapat hidup berdiri sendiri dan tetap bertahan walaupun diterpa badai atau salju. Sementara wanita diibaratkan sebuah pohon bunga fuji yang tumbuh menjalar pada pohon pinus. Makna yang terkandung dalam per ibahasa ini adalah bahwa pria merupakan insan yang kuat baik secara rohaniah maupun jasmaniah sehingga mereka memiliki kelebihan kemampuan dalam kehidupannya. Sedangkan wanita dianggap sebagai insan lemah yang pantas hidup bergantung pada pria.
Predikat tidak baik yang dimiliki wanita tergambarkan juga pada peribahasa 3 yang bermakna dikarenakan wanita merupakan insan yang suka ngobrol atau banyak bicara, maka kalau berkumpul tiga orang saja dalam waktu yang sama, akibatnya suasana akan menjadi ribut atau  gaduh. Selain itu, sialnya kaum wanita sampai pada perolehan ‘cap’ seperti yang digambarkan pada peribahasa 4 yang menyebutkan hati wanita seperti keadaan langit pada musim gugur yang mudah berubah-ubah secara tiba-tiba. Begitu juga dalam segi kepandaian,  wanita dianggap menduduki posisi jauh di bawah pria. Peribahasa 5 menunjukkan pengetahuan yang dimiliki wanita sangat dangkal. Lalu pandangan mengenai peran wanita yang tidak baik tersirat juga dalam peribahasa 6 yang memberi predikat terhadap wanita sebagai penggoda hati pria. Peribahasa ini menunjukkan sebagaimana kuatnya seorang pria namun ia akan tergoda juga oleh daya tarik dan kecantikan wanita. Bahkan dalam peribahasa 7 wanita dikatakan sering membuat pria lupa daratan.

Femininitas dalam Bahasa Jepang
Sudah banyak orang yang mengemukakan pendapatnya tentang ciri-ciri femininitas yang membedakannya dari maskulinitas. Misalnya Peter R. Beckman dan Francine D’Amico (1994 : 4) menunjukkan adanya stereotip atau generalisasi kultural tentang karakteristik-karakteristik jender tertentu sebagaimana dapat dilihat di bawah ini :
Maskulin :                              Feminin :
rasional                                    emosional
pasti, sungguh-sungguh          fleksibel/plinplan
kompetitif                               koperatif
tegas                                        mengalah
cenderung mendominasi         cenderung berrelasi
penuh perhitungan                              instingtif
menahan diri                           ekspresif
fisikal                                      verbal
agresif                                     pasif
egois                                        peduli, perhatian

Bersamaan dengan itu, Julia Cleves Mosse menunjukkan pandangan jender sebagai seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminin atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini  –yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas,  tanggung jawab keluarga, dan sebagainya -secara bersama-sama memoles ‘peran jender’ kita (Mosse, 1996 : 3). 
Tetapi Sasaki Mizue berpendapat bahwa sebenarnya apa yang ditunjukkan oleh istilah femininitas (onnarashisa) tidak jelas. Tidak salah, selain sikap  atau tingkah laku, raut muka, dan gaya atau penampilan, di dalamnya terkandung juga ‘pemakaian bahasa’ (Mizue, 1995 : 342). Kesimpulan bahwa pemakaian bahasa bisa merefleksikan femininitas dan maskulinitas penuturnya berawal dari adanya fenomena yang menunjukkan bahwa di dalam bahasa Jepang terdapat sebuah dialek sosial yang dikenal dengan  joseigo  atau  onna kotoba  (ragam bahasa wanita) yang berbeda dengan  danseigo atau otoko kotoba (ragam bahasa pria). Bahasa wanita (feminine language) adalah sebuah variasi  bahasa Jepang, yang biasa disebut  joseigo  atau  onna kotoba, yang secara khusus dipakai oleh kaum wanita sebagai suatu refleksi femininitas mereka. Keberadaan gaya bahasa yang secara tegas membedakan jenis kelamin tersebut merupakan karakteristik bahasa Jepang (Jorden, 1989 : 250). Ragam bahasa wanita dalam bahasa Jepang modern ditandai dengan beberapa aspek di antaranya dengan pemakaian  shuujoshi  atau bunmatsu hyoogen, dengan aspek leksikal seperti pemakaian pronomina persona pertama dan pemakaian interjeksi, dan ditandai juga dengan pemakaian ragam bahasa hormat ( keigo).
Dilihat dari aspek pemakaian  shuujoshi  terdapat beberapa perbedaan antara yang dipakai pria dan yang dipakai wanita. Di dalam ragam bahasa pria dipakai partikel-partikel seperti  zo, ze, kai, dazo, daze, sedangkan di dalam ragam bahasa wanita dipakai partikel-partikel  kashira, wa, wayo, wane, no, noyo, none, koto,  dan  kotoyo. Partikel -partikel  zo, ze, kai, dazo, daze,  dan sebagainya dalam ragam bahasa pria merefleksikan maskulinitas penuturnya sebagai insan yang sangat tegas, berani, kuat, penuh percaya diri, penuh kepastian, atau cepat dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan partikel-partikel itu, partikel-partikel  kashira, wa, wayo, wane, no, noyo, none, koto,  dan  kotoyo yang dipakai dalam ragam bahasa wanita menjadikan bahasa yang diucapkan lemah lembut dan tidak menunjukkan ketegasan atau kekuatan. Partikel-partikel itu dipakai untuk menghaluskan atau melemahkan pendapat, kesimpulan, keputusan, pikiran, atau pertanyaan penuturnya sehingga mereka terkesan ramah tamah dan sopan santun.
Lalu dilihat dari pemakaian pronomina persona pertama tampak sekali wanita tidak memiliki alternatif dibanding pria. Dalam situasi formal pria memakai pronomina persona pertama netral  watashi  atau  watakushi, sedangkan dalam situasi tidak formal mereka bisa memakai beberapa pronomina persona pertama boku, ore, washi, ware, atau 9jibun. Pada suasana formal wanita pun memakai pronomina persona pertama  watashi atau  watakushi, namun dalam suasana tidak formal mer eka hanya memakai satu pronomina persona pertama yaitu atashi (atakushi).
Sama dengan dalam pemakaian pronomina persona, dalam pemakaian interjeksi pun terdapat kata-kata yang hanya dipakai wanita. Dalam sebuah tulisannya Osamu Mizutani dan Nobuko Mizutani menyebutkan bahwa untuk menyatakan keterkejutan mereka pada saat melihat seseorang yang tidak terduga-duga, pria akan menyatakan ‘Yaa’ atau ‘Yaa korewa korewa’, sementara wanita akan mengatakan ‘Maa’ atau ‘Araa’ (Maa  dan  araa  tidak pernah digunakan oleh  pria) (Mizutani & Mizutani, 1987 : 77). Pemakaian pronomina persona pertama  atashi  (atakushi) serta pemakaian interjeksi  maa dan  araa  seperti ini menunjukkan bahasa yang dipakai wanita sangat halus, tidak menunjukkan kekuatan atau kekerasan dan tidak menunjukkan kesombongan atau keangkuhan sehingga penuturnya terkesan sabar, rendah diri, tenang, dan manja.
Begitu juga dalam aspek ragam bahasa hormat, ada kecenderungan dimana wanita lebih banyak menggunakan ragam hormat daripada pria. Dalam percakapan dengan kenalannya, wanita, terutama wanita tua cenderung berbicara lebih halus daripada pria, mereka lebih sering menggunakan verba halus atau menggunakan beberapa bagian akhir kalimat yang feminin (Mizutani & Mizutani, 1987 : 72). P.Wetzel yang telah melakukan penelitian mengenai pemakaian ragam bahasa hormat di kalangan orang Jepang, melalui penelitian kesadaran berbahasa (gengo ishiki choosa) yang ia lakukan, melaporkan bahwa wanita lebih sensitif terhadap kesalahan ragam bahasa hormat dari pada pria (Wetzel dalam Shooji, 1997 : 83). Banyaknya pemakaian bahasa hormat oleh wanita menunjukkan penuturnya yang sopan santun, selalu berhati-hati dalam berbicara, sangat mempertimbangkan dan menghormati lawan bicara atau orang yang dibicarakan. Horii Reiichi (1990 : 29) menambahkan, pada umumnya cara berbicara pria sangat dominan, ketegasannya kuat, terbuka, dan ingin memiliki wibawa. Sedangkan cara berbicara wanita bersifat lemah lembut, halus, koperatif, dan bersifat tidak langsung, namun sering dikatakan cenderung pada pokok pembicaraan yang membosankan dan sering melakukan
pengulangan.


Kesimpulan
Bahasa merupakan refleksi masyarakat dan kebudayaan para pemakainya. Begitu juga bahasa Jepang, yang mengandung nilai-nilai seksis, dapat merefleksikan nilai-nilai, norma-norma, sikap, atau pandangan masyarakat Jepang terhadap pria dan wanita. Fenomena yang menunjukkan adanya ragam bahasa wanita dalam bahasa Jepang dengan karakteristiknya yang berbeda dengan ragam bahasa pria, merupakan wujud konkrit dari refleksi tersebut. Karakteristik ragam bahasa wanita yang telah dikemukakan pada bagian muka menggambarkan posisi wanita yang tidak sejajar dengan pria. Bahkan hal itu ada hubungannya dengan status sosial wanita yang masih menduduki posisi sekunder dibanding pria dalam kehidupan masyarakat Jepang. Sachiko Ide (dalam Dardjowidjojo, 1995 : 268) menjelaskan bahwa dalam tingkat tatakramanya, wanita Jepang memakai ujaran yang lebih sopan atau lebih halus daripada pria. Pemakaian bentuk yang lebih sopan ini ada yang menghubungkannya dengan posisi wanita yang lebih rendah atau lebih marjinal atau dengan usaha wanita untuk berkompensasi terhadap posisi yang tidak aman dalam masyarakat.
Para wanita telah lama dinyatakan lebih rendah statusnya dibanding pria dan diharapkan untuk menunjukkan perbedaan pria dengan dirinya dalam tingkatan yang setinggi-tingginya melalui penggunaan bahasa sopan dan bentuk-bentuk hormat dalam berbicara, membungkukkan badan lebih dalam dari pada pria, berjalan di belakang suaminya di hadapan umum, dan masih banyak cara lain sebagai kepatuhannya terhadap pria (Loveday, 1986 : 12). Hal ini berawal dari pemikiran  dansonjohi  (Haruhiko, 1997 : 210) yang menunjukkan sikap atau pemikiran yang menghormati kaum pria dan merendahkan kaum wanita.













Daftar Kepustakaan

Achmad, Sjamsiah. 1995  Keperluan untuk Mengadakan Analisis Secara Spesifik Menurut
Gender dalam Kajian Wanita dalam Pembangunan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Beckman, Peter R. & Francine D’Amico. 1994  Women, Gender, and World Politics-
Perspectives, Policies, and Prospects, Bergin & Garvey, London.

Budiman, Kris. 1995  Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia, tulisan dalam
Citra Wanita dan Kekuasaan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Dardjowidjojo, Soenjono 1996 . Nasib Wanita dalam Cerminan Bahasa dalam PELLBA 8,
Kanisius, Yogyakarta.

Eiji, Orii. 1985. Kurashi no Naka no Kotowaza Jiten, Shueisha, Tokyo.

Fakih, Mansour. 1997  Menggeser Konsepsi Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.

Haruhiko, Kindaichi. 1998.  Nihongo no Tokushoku, Kodansha, Tokyo.

Hiroshi, Abe .1999.  Gengo ni Okeru Sei to Bunka dalam Jendaa o Meguru Gengo to
Bunka, Tohoku Daigaku Gengo Bunkabu. Izuru, Shinmura 1990  Koojien, Iwanami Shoten, Tokyo.

Jorden, Eleanor, H.1989.  Feminine Language dalam Kodansha Encyclopedia of Japan,
Kodansha, Tokyo.

Loveday, Leo 1986  Japanese Sociolinguistics, John Benjamins Publishing Company,
Kyoto.

Mizue, Sasaki. 1995. Onna Kotoba to otoko Kotoba dalam Nihon Jijoo Handobukku,
Taishuukan Shoten, Tokyo.

Mizutani, Osamu & Nobuko Mizutani. 1987.  How to be  Polite in Japanese, The Japan
Times, Tokyo 

Mosse, Julia Cleves .1996.  Half the World, Half a Chance – An Introduction to Gender
and Development (Gender & Pembangunan, terjemahan Hartian Silawati), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.Reiichi, Horii 1990  Onna no Kotoba, Meiji Shoin, Tokyo.

Silzer, Peter J.1991.  Bahasa Sebagai Sarana Mengungkap Perasaan dalam Transformasi
Budaya Seperti Tercermin dalam PerkembanganBahasa-Bahasa di Indonesia, Fakultas sastra Universitas Indonesia,Depok.



Shooji, Azuma.1997.  Shakai Gengogaku Nyuumon, Kenkyuusha Shuppan, Tokyo.

Suharto, 1991.  Tanya Jawab Sosiologi, Rineka Cipta, Jakarta.

Supardo, Susilo. 1988.  Bahasa Indonesia dalam Konteks, Proyek PLPTK Dirjen Dikti
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Tadao, Umesao. 1995.  Nihongo Daijiten, Kodansha, Tokyo.

Trudgill, Peter 1996  Sociolinguistics : An Introduction (Gengo to Shakai, terjemahan
bahasa Jepang oleh Tsuchida Shigeru), Iwanami Shinsho, Tokyo.

1 komentar: